Skip navigation

Poster The Interpreter

Poster The Interpreter

Cast : Nicole Kidman (Silvia Broome), Sean Penn (Tobin Keller), Catherine Keener (Dot Woods), Jesper Christensen (Nils Lud), Earl Cameron (Zuwanie), Curtiss Cook (Arjene Xola), George Harris (Kuman Kuman)

Iya tau, film ini kayaknya memang sudah lama banget.  Mungkin sih, saya gak seberapa tau tentang fakta2 tentang film ini.  U know, sometimes I’m just not into facts, walaupun most of the time I’d spent hours, dwelling in the facts on the movies I like.  Well this is my blog.. If u wanna know bout the facts.. just go google.. he’ll tell u just even more than u need to know, duh.. 😀

THE PLOT (Warning!! Spoiler Alert!!)

Film ini bercerita tentang seorang penerjemah yang bekerja di PBB, Silvia Broome (Nicole Kidman) yang secara tidak sengaja mendenger sebuah rencana pembunuhan terhadap Dr. Zuwanie, presiden kontroversial negara Matobo.  Dikatakan kontroversial, karena beliau memliki “pendekatan” tersendiri dalam meloloskan manifesto politiknya.  Sebuah pendekatan yang menjadikan Zuwanie sebagai seorang presiden yang berkuasa selama 23 tahun.

Pendekatan ini, dikecam habis-habisan oleh beberapa pihak, hingga berujung sebuah konsiderasi PBB untuk mengajukan Zuwanie ke International Criminal Court (ICC).  Zuwanie, akhirnya memutuskan untuk datang sendiri ke General Assembly dan memaparkan kasusnya, untuk menghindari indictment dari PBB.  Kedatangan ini, menimbulkan keresahan atas usaha pembunuhan yang mungkin akan dilakukan terhadap Zuwanie dengan memanfaatkan kesempatan ini.

Agen Secret Service, bernama Tobin Keller (Sean Penn) dan Dot Woods (Catherine Keener) ditugaskan untuk menginvestigasi masalah ini dan bertanggung-jawab atas keselamatan “The Teacher”, sebutan Dr. Zuwanie.  Masalah semakin kompleks dengan campur tangan kepala keamanan Zuwanie, Nils Lud (Jesper Christensen) yang memberikan informasi-informasi kepada Keller tentang masa lalu Broome yang cukup kelam.

Dengan fakta bahwa Broome, adalah seorang putri dari pasangan yang menjadi korban kekejaman Zuwanie.  Kecurigaan meningkat dengan munculnya sebuah foto yang menunjukkan kehadiran Broome dalam sebuah orasi dari seorang pemimpin pemberontakan bernama Arjene Xola.  Pengaduan Broome mengenai plot pembunuhan yang ia dengar di gedung PBB mulai diragukan oleh Keller dan Woods.

“The gunfire around us makes it hard to hear. But the human voice is different from other sounds. It can be heard over noises that bury everything else. Even when it’s not shouting. Even if it’s just a whisper. Even the lowest whisper can be heard– over armies… when it’s telling the truth.” -The Interpreter

Dilain pihak, beberapa kejadian aneh, mulai terjadi pada hidup Broome.  Usaha pembunuhan terhadap Broome mulai terjadi.  Sebuah kebetulan yang aneh, pun terjadi, ketika Broome berada satu bus dengan Kuman-Kuman salah seorang musuh Zuwanie.  Yang kemudian bus itu meledak dengan Kuman-Kuman di dalamnya.  Ujung dari kejadian ini menuntun Broome pada pertemuan dengan seorang rekan kerja kakaknya Simon Broome yang memberitahukan pada Broome bahwa kakaknya sudah tewas terbunuh.

Tertekan, Broome melarikan diri dari penjagaan Secret Service, dengan hanya sebuah pesan terhadap Keller bahwa dia akan pulang.  Keller yang frustasi akhirnya merelakan menghilangnya Broome, dan memfokuskan diri pada kedatangan Zuwanie, yang dijadwalkan akan terjadi esok paginya.

Esoknya, Zuwanie sampai di New York, dengan sambutan demonstran di sisi-sisi jalan yang mengarah ke gedung PBB.  Di lain sisi, Keller sebagai kepala keamanan kedatangan Zuwanie, sibuk mengamankan lokasi sembari mencari fakta mengenai plot pembunuhan yang diterrorkan.  Menit-menit kedatangan berlalu.  Zuwanie baru saja masuk ke ruang GA, ketika Keller akhirnya mendapatkan foto dari tersangka plot pembunuhan Zuwanie.

Wajah pembunuh itu, sudah pernah ia lihat sebelumnya, ketika UN meminta representasi Zuwanie untuk menyampaikan kemungkinan indictment presiden Matobo tersebut.  Pembunuh itu adalah seorang dari anggota pengawal Zuwanie, Keller masuk ke dalam ruang GA hanya untuk mengetahui bahwa kursi dari pengawal itu sudah kosong.  Dengan ketegangan ia menyapu penjuru gedung GA, dengan harapan menemukan tersangka itu di sudut-sudut ruangan.

Sejenak kemudian, Lud, yang bekerja sama dengan Keller untuk mengamankan gedung GA, secara tiba-tiba menghilang ke dalam ruang atas di mana penerjemah bekerja.  Zuwanie memulai pidatonya, dan tiba-tiba suara tembakan yang memekakkan memenuhi ruang GA.  Keller dengan sigap bergegas ke atas dan menemukan tersangka yang ia cari sudah mati tersungkur, dengan Lud memegang senjata tersangka.

Keller secara intuitif menyadari keanehan yang terjadi di sana.  Lud yang nampak memakai sarung tangan di satu tangannya, membuat Keller curiga, bahwa usaha pembunuhan ini hanyalah plot belaka.  Setelah memastikan bahwa senjata yang dipakai tersangka hanya berisi peluru kosong.  Ia menyadari plot yang sebenarnya sedang dimainkan oleh Zuwanie.  Zuwanie lah yang merencanakan usaha pembunuhan ini, dengan harapan simpati akan timbul dari dunia, sehingga pendekatan yang biasa ia lakukan dapat dijustifikasi.  Dan Lud ada di sana untuk mengganti peluru dalam senjata tersangka, dengan peluru asli.

Di luar ruang penerjemah, Zuwanie yang berada di podium diamankan oleh tentara ke dalam ruangan penjagaan.  Setelah Zuwanie hanya sendirian di dalam ruangan itu, secara tak terduga Broome tiba-tiba keluar dari balik tirai dan menghampiri Zuwanie.  Merebut senjata yang dibawa Zuwanie, dan menodongkannya ke kepala Zuwanie.

Tak lama kemudian, Keller yang menyadari bahwa Broome, mungkin sudah terlebih dahulu menyadari plot keji Zuwanie, langsung bergegas dan menemukan Broome sedang menekan Zuwanie.  Dengan sabar, Keller meminta Broome untuk menurunkan pistolnya.  Hingga akhirnya Broome meminta Zuwanie untuk membaca pembukaan buku yang ditulis Zuwanie, ketika ia masih menjadi pahlawan yang dicintai di Matobo.  Isi pembukaan itu, adalah yang tertulis di awal postingan ini.  Setelah selesai, Broome bersedia menurunkan pistolnya.

Zuwanie akhirnya dibawa ke ICC dan dihukum, dengan banyak sekali tuntutan.  Digambarkan di akhir film, Broome membacakan catatan kematian yang ditulis kakaknya Simon Broome, dalam persidangan.  Dengan tambahan di akhir, “Simon Broome, shot to death in a soccer stadium..”

PERSONAL THOUGHTS

Hmmm.. lumayan seru deh filmnya.  Ada beberapa hal yang menarik dari film ini, mungkin pertama tentang si Dr. Zuwanie ini.  Dr. Zuwanie ini digambarkan dalam film, sebagai seseorang yang awalnya, adalah seorang pahlawan bagi negara Matobo.  Negara Matobo adalah sebuah negara fiksional, jadi sebenarnya negara ini ndak ada.  Ia dulunya adalah seorang guru, pejuang, penulis, yang mempercayai kekuatan dari suara kebenaran, seperti yang tertulis dalam pembukaan biografinya.

Well, tapi Zuwanie, setelah berkuasa selama 23 tahun, akhirnya dikenang sebagai seorang yang evilish. Hmmm.. jadi inget kata-katanya Harvey Dent di film The Dark Knight, “You either die a hero or you live long enough to see yourself become the villain.” Melihat si Zuwanie, entah kenapa mengingatkan saya pada alm. Soeharto, setelah menjabat selama 32 tahun (kebalikan dari masa jabatan Zuwanie..) pandangan positif terhadap alm. mulai sedikit memudar.  Bahkan di hari-hari akhirnya, banyak orang yang masih menyoal dan menuntut beliau diadili.

Mungkin itu sudah kayak sebuah peringatan bagi manusia.  You guys just have to know when to stop.. when to say, that you’ve had enough of it.. Bukan hanya untuk menjaga niat pribadi, tapi see the other side man.. every nations, every organizations, every families.. needs a regeneration.. Regenerasi dapat menjaga kualitas dari sebuah institusi.  Menjaga semangat kemutakhiran isu yang dipahami oleh pemimpin.  Dan menjaga kreativitas tetap hidup.  Itu yang saya pahami, dan saya percayai.

Bicara tentang regenerasi, untungnya sekarang kita punya batasan masa jabatan yaitu dua kali masa jabatan.  Sepertinya itu memang sudah pas sekali lah bagi sebuah negara.  Hmm.. dan akhir-akhir ini sudah mulai menjamur bacapres membuat sebuah pencitraan-pencitraan di televisi.  Mengingatkan kita, bahwa masa jabatan Bapak Presiden kita tercinta sudah hampir usai, dan tahun depan kita sudah harus memilih RI 1 yang baru.  Yah.. siapapun yang akhirnya jadi capres nanti semoga kita tetap dikarunia seorang pemimpin yang jujur, adil, bertanggung-jawab, dan mumpuni.

Kembali ke film ini, oya, setelah baca-baca di Wikipedia, ternyata banyak hal yang menarik dari film ini lho.  Mulai dari bahwa ternyata Matobo dan Zuwanie, walaupun dikatakan fiksi, tapi ternyata memiliki banyak kemiripan dengan negara Zimbabwe dan presidennya Robert Mugabe.  Bahkan Mugabe pada saat film ini rilis, telah menjabat selama 25 tahun.  Data lengkap kemiripan, baca di Wikipedia saja.

Apa artinya film ini adalah sebuah usaha propaganda tertentu? Ya, mungkin saja, dan pastinya Mugabe dan Zimbabwe menganggap film ini sebuah propaganda dan akhirnya menyegel peredaran film ini di Zimbabwe.  Sebuah film dibuat, tidak menutup kemungkinan diilhami oleh kejadian nyata. Tidak menutup kemungkinan juga dibuat untuk mengkritisi suatu hal.  Atau memang dibuat sebagai sebuah propaganda.

Hal ini mengingatkan saya pada sebuah game berjudul Splinter Cell: Pandora Tomorrow, yang membuat sebuah karakter antagonis bernama “Suhadi Sadono” seorang Indonesia yang memimpin teroris yang menamakan dirinya “Dara/Darah dan Doa”.. Wehh.. Maksudnya apa itu kayak gitu?? 😦 saya jadi bercita-cita mo buat game sendiri dengan tokoh antagonis manipulatif dan super-jahat bernama Georgia Busch, waktu itu.

Yah, yang pasti kita harus hati-hati dan membuat pencitraan dengan baik aja, supaya masyarakat dunia tidak nerima dari asal yang salah kayak gitu.  Kita harus bisa menunjukkan siapa kita, supaya orang bisa tahu kita dari apa kita, dan bukan dari apa yang dikatakan negara lain tentang kita.

Hwahh.. gitu lah.. ayo bro semua, tunjukkan kehebatan kita!!! We once had our great idealism.. Unbeaten.. Unmoved.. An Idealism that we need to regain.. Yeach.. Semangat Semua!!!!

Segitu dulu untuk postingan kali ini. 😀 ciao!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: